Indian Telephone Operator

February 28th, 2007 by michael

Mujibar was trying to get a job in India.

The Personnel Manager said, "Mujibar, you have passed all the tests except one. Unless you pass it you cannot qualify for this job."

Mujibar said, "I am ready."

The Manager said, "Make a sentence using the words Yellow, Pink and Green."

Mujibar thought for a few minutes and said, "Mister Manager, I am ready."

The Manager said, "Go ahead."

Mujibar said, "The telephone goes green, green, green, and I pink it up, and say, ‘Yellow, this is Mujibar.’"

Mujibar now works as a technician at a call center for computer problems. No doubt you have spoken to him.

It’s a Smurf World, After All

February 15th, 2007 by michael

From http://www.hatchmagazine.com/2007/01/its-smurf-world-after-all.html

Eeryone’s favorite little blue creatures enter the real world

Seems there was a smurf for every smurfin’ emotion one could smurf of. Whether they were created smurfy or smurfy, smurfy or smurfy, those little blue rascals from the ’80s serve as a perfect allegory for contemporary twentysomethings. Here’s how they turned out:

Smurf_brainyBrainy. He graduated magna cum laude from some smurfy Ivy League school and won’t let you forget it. Mr. Smurf-It-All was smart enough to not follow his dreams, but rather pursue a joint degree in computer science and finance so he could take the thousands he’s raking in as an IT whiz and invest it wisely. And, just to protect his smurfy little assets, he got his juris doctorate. What a smurfin’ smurf.

Grouchy. This miserable son of a smurf got a crap entry-level job in publishing right out of college and, three years later, he’s got the same job. And his incessant pouting ensures that everyone knows his plight.

Lazy. Unemployed and smurfin’ it, he’s perfectly content living off unemployment checks, smurfing around the house in his pajamas and eating bowls of Smurfs cereal.

Vanity. This metrosexual smurf spends most of his time looking in the mirror and spends most of his money on tanning salons, clothes, electrolosis and Propecia. And he has Smurf Eye for the Smurf Guy to thank for it.

Cook. Sir Carbs-a-Lot was the last to catch onto the Atkins craze. And, unfortunately, his failed bagel business — and some chubby smurfhandles — are all he has to show for it. Thinner and sans gall bladder, he hopes to smurf his smurf around with a butcher shop.

Greedy. Made millions selling a dot-com smurf-up a few years back, but instead of diversifying his portfolio, he smurfed all his money into what surely seemed to be a safe company — Enron.

Hefty. All those weights really helped this smurf get smurfed, and he smurfed his way into Major Smurf Baseball, where he continued to get smurfy. He even hit the smurf to increase his smurf. But when his smurf cap couldn’t fit his smurfin’ head any more and they couldn’t tell his tail from his smurf, he got thrown out of baseball. Thin and unable to hit homers, he frequents Greedy’s butcher shop.

Clumsy. He’s collected big-time from worker’s smurfensation. Three times.

Smurfette. This smurfy dame sure had her share of smurfs. And after she adopted the Paris Smurf look, the smurfs just kept flocking. But alas, she is raising a mushroom-hut full of smurfs all by her lonesome, and she’s got a case of smurfes she just can’t kick.

Handy. The crafty carpenter became a landlord, building smurf-budget housing and renting it out for high-budget rents. A sad slumsmurf who’ll get what’s smurfing to him.

Poet. Smurfed his own life while listening to Marilyn Smurfson.

Farmer. His land was smurfed up by the man so the state could run a highway through his farm, and now he’s smurf out of luck collecting smurferment checks.

Jokey. Though he used to get all the laughs, Jokey’s obsession with exploding gift boxes got him arrested and sent to Smurftanamo.

And as for Gargamel, well, his middle initial is now W.

Pengakuan Seorang Pemalas

February 13th, 2007 by michael

Taken from http://enda.goblogmedia.com/pengakuan-seorang-pemalas.html

Hai.

Nama saya tidak penting. Saya laki-laki, dilahirkan 30 tahun yang lalu di Jakarta, dengan bintang Leo. In relationship, punya pekerjaan bagus. Tinggal sendiri di kota besar ini.

Kamu tidak kenal saya, saya juga tidak kenal kamu. Saya orang baru disini.

Di tulisan ini saya mau mengakui sesuatu tentang diri saya yang tidak ada orang lain yang tahu.

Yaitu, saya, seorang pemalas.

Saya memulai hari dengan malas. Setiap bangun yang pertama kali saya pikirkan adalah, apa saya harus masuk kerja? Berapa hari lagi jatah sick leave saya? Dan kenapa sih orang harus kerja?

Dan kalo pun akhirnya saya bangun, mandi dan pergi ke kantor itupun saya lakukan dengan terpaksa dan dengan satu tujuan: sebisa mungkin tidak mengerjakan apa-apa hingga jam pulang kantor tiba!

Oh jangan khawatir, banyak hal yang bisa dilakukan dikantor sambil terlihat kerja. Ada ruang pantry tempat berlama-lama membuat kopi sambil ngobrol, ada meeting berjam-jam dimana kamu cuma perlu duduk manis, ada lunch hour, (!) really loooong lunch hour. Dan ada komputer dan internet (ah penemuan yang brilian luar biasa) dimana kamu bisa duduk berjam-jam terlihat bekerja padahal sibuk mem-forward email lucu (yang kadang jorok) ke teman-teman kamu.

Kalo satu hari terbuang percuma maka saya akan menepuk dada dan memberi selamat pada diri saya sendiri. Selamat bung, kamu berhasil membuang waktu sehari penuh tanpa kerja!

Ya saya seorang pemalas, keahlian saya adalah membuang-buang waktu.

Oya jangan salah, tidak ada yang tahu tentang hal ini, tidak teman kerja saya, tidak boss saya. Sepengetahuan saya, semua orang menyangka saya seorang yang normal. Tapi mereka salah.

Kuncinya adalah, cukup mengerjakan pekerjaan yang benar-benar harus disaat yang benar-benar penting. Di luar itu, jangan kerja! Cukup duduk manis di depan komputer, berpakaian rapih dan terlihat sibuk.

Saya bukan orang yang bodoh, justru karena saya pintar maka saya malas dan menerima tawaran pekerjaan ini (saya terlalu malas buat ngirim-ngirim lamaran).

Saya malas kuliah dulu, tapi didaftarkan oleh orang tua saya. Saya lulus karena berpegang pada prinsip kemalasan saya tadi, mengerjakan hanya hal yang harus dikerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan saya tidak sendirian.

Sudah dengar cerita tentang lomba malas sedunia? Intinya kira-kira begini.

Tiga pemenang lomba malas sedunia diwawancara dalam sebuah talk show.

Juara 3 ternyata ditempati oleh orang yang tidak makan dan minum selama 12 hari karena untuk makan saja dia MALAS. Juara 2 ditempati oleh orang yang tidak buang air besar selama sebulan, dan menurut pengakuannya, itu dia lakukan karena dia MALAS.

Dan ketika kamera beralih ke juara 1, ternyata sang pemenang sedang menangis tersedu-sedu.

“Kenapa?”, tanya si pembawa acara, “Kok malah sedih? Harusnya Anda senang dong menjadi juara 1.”

“Oh bukan itu, saya senang kok juara. Ini ANU saya kejepit di resleting”, jawabnya sambil terus tersedu-sedu.

“Loh!? Terus kenapa tidak dibuka?”, tanya pembawa acara keheranan.

“Abis saya malaass”.

Saya seorang pemalas, dan website favorite saya adalah malesbanget.com

Bukannya saya tidak punya inspirasi atau cita-cita. Saya merasa banyak orang yang salah paham tentang pemalas dan saya ingin membenarkan pandangan itu.

Sekitar tahun 2001-an saya sudah mau mulai membeberkan true story ttg para pemalas dalam bentuk artikel, buku dan seminar-seminar, sayang terus sayanya malas.

Dan karena itulah, sejak Januari 2004 saya memulai menulis pengakuan ini untuk meluruskan permasalah kemalasan itu. To keep the record straight. Akhirnya setelah 11 bulan, karena nulisnya males-malesan, pengakuan ini syukur rampung juga.

See, untuk hal-hal penting, selesai juga kok akhirnya. Bukannya saya tidak punya prioritas buktinya saya punya pekerjaan tetap, punya pacar, punya kehidupan.

Saya seorang pemalas, dan tokoh favorite saya adalah Kabayan.

Dunia penuh oleh para pemalas, bukankah pepatah mengatakan laziness is the mother of all invention?

Orang malas jalan, maka diciptakanlah mobil, orang malas membuat tabel dan menghitung dengan sipoa maka terciptalah Excel, orang malas memasak maka terciptalah instant food dan microwave.

Tanpa para pemalas, dunia ini akan tetap di jaman batu.

Jadi tidak ada yang salah dengan berlaku malas. Mungkin saya akan menciptakan sesuatu, mungkin sebuah robot yang persis saya yang akan mengerjakan segala sesuatu yang harus saya kerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan utopia saya adalah dunia penuh robot dimana saya bisa hidup di dalam mesin mimpi.

“Apakah kamu bahagia?”, kamu mungkin bertanya, “bukankah kebahagiaan, salah satunya datang dari rasa kepuasaan disaat kamu mengerjakan sesuatu, disaat kamu tahu ada hasil dari yang kamu kerjakan, ada reward, perasaan puas (wekdor)?”

Oh terima kasih, tapi saya tidak punya waktu (!) untuk memikirkan kebahagiaan saya cukup sibuk mempertahankan kemalasan saya.

Saya cukup senang (apakah bahagia itu senang? bukan, senang itu hitut dina se’eng) dengan hidup saya sekarang.

Di akhir sebuah hari, jika saya berhasil tidak mengerjakan apa-apa di hari itu maka saya akan merayakan hari tersebut dengan makan malam yang enak dan menghibur diri dengan cara apapun.

Kadang sendiri, kadang dengan teman yang tidak merepotkan atau dengan pacar yang tidak menyusahkan, tapi seringkali sendiri. Orang lain adalah pekerjaan dan saya malas mengurusnya.

Habis itu saya akan pulang kerumah, memarkirkan mobil ke garasi rumah saya yang tidak pernah ditutup (males nutupnya), masuk ke tempat tidur, melihat langit-langit, mengingat lagi bahwa hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa. Satu hari lagi terbuang percuma dan saya pun menangis tersedu-sedu.

Tidak apa, tidak apa, saya tidak apa-apa, tinggalkan saja saya, saya butuh sendiri, saya sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.

Anu saya sudah kejepit resleting sejak 7 tahun yang lalu. Tiap pagi robot saya menjepitkan anu saya di resleting, dan tiap malam dia melepaskannya lagi.

Ya saya seorang pemalas.

Dan inilah pengakuan saya.

By Enda Nasution on December 11, 2004 2:16 PM | Permalink

Ngeyel

February 8th, 2007 by michael

Funny Story taken from Koki

Dari begitu banyaknya cerita para sesepuh yang suka ngeyel ini, saya jadi teringat salah satu cerita yang pernah saya denger, hampir 20th yg lalu waktu awal2nya masuk SMA, ceritanya dalam bahasa jawa, lupa2 inget tapi kurang lebihnya begini. Ada seorang kakek yang hidup berdua dengan kucing kesayangannya, tiba2 suatu hari si kucing pulang dengan tubuh dekil bin kumel, lalu pergilah dia ke warung di kampungnya.

Kakek: “Dul, kowe duwe sabun sih ampuh nggo ngilangake kotoran?”
Si Dul: “Ono, Mbah, iki lho sabun Lux, ampuh tur ambune wangi”
K: “Lho, kok ora ono gambare kucing?”
D: “Nek arep ngresiki kucing yo di lap wae”
K: “Ora! Pokok’e kudu di dusi, wong kotorane mbandel ki”
D: “Tapi yo melas tho, Mbah. Ngko ndak kanyesen kucingmu”
K: “Yo ora tho! Nek langsung di pé!”          
D: “Yo wis nganggo Rinso wae, regane murah tur jaminane rinso membersihkan paling bersih, iki lho tulisane”
K: “Sabun Lux wae, ben wulune tambah alus”
D: “Ning resikone, wulu kucingmu ambrol kabeh nek di gosok karo sabun Lux, wis tho, rinso wae, carane gampang, sing penting ngati-ati koyo ngumbah klambi bathik!”
Akhire si Kakek pulang dengan rinso ditangan, beberapa hari kemudian dia nonggol lagi, untuk membeli beberapa keperluan dapur.
D: “Piye kucingmu, wis resik?”
K: “Aku wis ra duwe kucing, yo goro2 rinsomu iku!”
Dul bengong, “Mbok empani rinso tho?!”
K: “Ora, mati tak peres.”
Dul tambah bengong, ketika berusaha angkat bicara, si Kakek langsung memotong.
K: “Ora usah mangsuli wong tuwo! Kowe ugo sing ngandani -sing penting ngati-ati koyo ngumbah klambi bathik! Hasile, kucingku mati ! ” jawab si Kakek tetep keukeuh bin ngeyel hehehehe…  Dasar kakek2, kadang2 mereka selalu ‘I believe I can fly’ (R Kelly) sing artine “Pancen Ngeyel Tenan!” Salam.

WARNA Part 2

November 6th, 2006 by michael

interesting article from http://enda.goblogmedia.com/

——- Original Message ——-
From: <editor@****.worldnet>
To: “whoever” <whoever@g****.com>
Sent: Fryday, October 11, 3768 9:19 PM Planet Bumi
Subject: Untuk kamu yang mau baca 2

Halo semua,

Di bawah ini akan saya teruskan cerita dunia kami, dunia yang penuh warna.

Dunia memang tidak lagi HITAM dan PUTIH sekarang, di tahun 3618 warna telah menyebar begitu cepat, 250 tahun setelah turunnya warna yang pertama 50% penduduk planet kami telah menjadi pemeluk salah satu warna.

Mereka yang menyebut dirinya berpendidikan, berbudaya dan beradab bisa dipastikan telah memeluk salah satu warna dan memanggil manusia lain yang belum mengenal warna tidak beradab, liar, barbar!

Ketika ditanya apa sebabnya warna begitu cepat menyebar, dan apa keuntungan dari memeluk warna, maka 80% pemeluk warna menjawab bahwa warna memberikan mereka sesuatu untuk dipercaya. “MERAH itu indah dan penuh kekuatan”, kata Karma Suwarna, bapak 3 anak berumur 45 tahun yang memiliki perusahaan sendiri.

“Dengan adanya MERAH maka hidup saya jadi berarti dan memiliki makna, begitu juga hidup anak dan istri saya”, dia meneruskan, “saya tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa warna MERAH.

Sarwa Sukarma, juga memiliki pendapat yang kurang lebih sama tentang warnanya. “HIJAU adalah kehidupan dan membuat saya percaya pada kekuatan alami dan perlindungan lingkungan”, dia berkata di depan rumahnya yang dikelilingi hamparan sawah milik keluarganya. “Pada HIJAU saya menemukan ketenangan karena saya percaya dan saya beriman” tandasnya.

Bagi para pemeluk warna KUNING, MERAH, HIJAU, BIRU dan UNGU, warna-warna yang mereka percayai itu selain memberikan panduan tentang hidup berdasarkan nilai-nilai yang dibawa oleh warna-warna tersebut (menurut mereka) juga memberikan perlindungan, penghargaan, karunia kalau mereka mengikuti aturan warnanya, dan hukuman jika mereka melanggar apa-apa yang dilarang (menurut mereka) oleh warna tersebut.

Aturan sosial dan norma dalam hubungan sosial manusia medapat legitimasi suprawarna, karena aturan-aturan tersebut seolah-olah datang dan dipandu dari warna-warna tersebut, walaupun sebenarnya sudah ada sebelum warna-warna ada, ketika dunia masih HITAM dan PUTIH.

Warna karenanya, baik itu KUNING, HIJAU atau manapun dianggap sebagai sumber kebaikan dan hidup setelah ada warna sebagai masa yang lebih baik dan lebih berwarna daripada masa sebelumnya yang gelap dan pucat.

Hingga tahun 3868, kehidupan di planet kami mendengung dinamis dengan diskusi, pemikiran, ide dan inovasi yang berkaitan dengan warna-warna.

Selain nilai-nilai kebaikan yang katanya “berasal” dari warna, salah satu kelebihan warna yaitu: Karena warna adalah sesuatu yang sosial, dan karena manusia adalah mahluk sosial.

MERAH akan berkumpul dengan MERAH, dan KUNING akan berkumpul dengan KUNING, karena warna tersebut adalah sesuatu yang mereka miliki bersama, sesuatu yang mereka share, dan karena itu sesuatu dimana mereka terikat dan mengikat diri.

“Dengan warna, maka kami menemukan persamaan diantara wajah-wajah yang asing”, begitu ungkap Rahwarna Karma, aktivis muda calon pemimpin bangsa.

Berkumpul bersama warna yang sama jauh lebih mudah daripada berkumpul bersama warna lain, karena pertama, lebih enak dimata, kedua pada saat itu masing-masing warna telah memiliki kebiasaan dan gaya mereka masing-masing sehingga berkumpulnya warna yang berbeda akan membuat situasi yang kurang nyaman.

Warna juga diturunkan pada pada keturunan. Bapak ibunya yang berwarna HIJAU, maka anaknya juga HIJAU misalnya.

Karena itu perkawinan, pertemanan, hubungan sosial maupun ekonomi sebaiknya pun harus dalam warna yang sama. Bertemanlah dengan teman dari warna yang sama. Menikahlah dalam warna yang sama. Berkumpulan dalam warna yang sama. (ini semua ada di kitab masing-masing warna).

Warna juga merubah cara manusia melihat dunia. Pemeluk MERAH akan melihat dunia dengan kemerah-merahan. KUNING dengan kekuning-kuningan. Hijau akan melihat dunia dengan bernuansa HIJAU.

Karena ini maka masing-masing warna tidak bisa melihat warna lain dengan sebenarnya. HIJAU yang dilihat oleh KUNING akan menjadi HIJAU kekuning-kuningan. MERAH yang dilihat oleh mereka yang hijau akan menjadi hijau kemerah-merahan.

Yang menarik adalah, walaupun ikatan dan tekanan untuk mempertahankan sebuah warna sangat kuat, tapi orang bukan tidak mungkin berganti warna. Bukan tidak mungkin untuk berganti warna, terutama tentu untuk mereka yang sudah istilahnya sudah “tercerahkan” atau sudah mendapat cahaya, menurut warna barunya. KUNING menjadi HIJAU. HIJAU menjadi MERAH. MERAH menjadi KUNING.

Ini tentu ditentang dan dihujat dengan keras oleh masing-masing pemeluk warna. Orang yang berpindah warna dari warna manapun akan dicap sebagai pengkhianat, walaupn yang mereka lakukan hanya berubah warna. Orangnya sama dan hampir semua warna mengajarkan nilai-nilai yang sama.

Di tahun 4031, lebih dari 1000 tahun setelah warna pertama turun, kehidupan warna di planet kami telah menjadi begitu established. Warna adalah sesuatu yang menuntut ekslusivitas, pemeluk warna tertentu hanya bisa memeluk warna tersebut dan tidak yang lain.

Masing-masing pemeluk warna percaya bahwa warnanyalah yang benar dan warna lain salah.

Pemikiran yang menyebabkan sebagian orang-orang melek warna geleng-geleng kepala, bagaimana mungkin ada warna yang benar dan warna yang salah?

Ini kan “WARNA”.

MERAH tidak lebih benar daripada KUNING, dan KUNING tidak lebih benar daripada HIJAU.

Bagaimana menetukan warna mana yang lebih benar atau lebih baik? WARNA tidak bisa dibandingkan, mereka cuma berbeda tapi bukan berarti yang satu lebih baik daripada yang lain.

Walaupun begitu toh para pemeluk warna yang lebih banyak tidak peduli. Apalagi ini sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan mereka, dengan keimanan mereka, buat banyak orang warna adalah segalanya.

Karena mereka percaya warna mereka adalah yang terbaik, maka penyebaran warna menjadi krusial karena dengan begitu mereka menyebarkan kebaikan bagi mereka yang belum tahu.

Niatan ini dan digunakannya warna oleh mereka yang berkuasa menjadi sumber konflik, kesedihan dan kesusahan pertama yang dibawa oleh warna di planet kami.

Penguasa senang menggunakan warna karena orang lebih bersedia mati untuk warna daripada untuk penguasa dan warna bisa menyatukan kekuasaannya dengan lebih sempurna

Pemimpin warna pun senang berdekatan dengan penguasa karena bisa menyebarkan warnanya lebih luas dan dengan kekerasan

Konflik antar warna tidak terhindarkan, untuk menghindari konflik maka ada dua alternatif, hidup dengan memisahkan diri dan tidak bercampur, atau mencari sebuah mekanisme khusus yang mengatur hubungan antar warna.

Walaupun konflik antar warna cukup keras tapi ternyata itu belum apa-apa.

Sejarah telah menunggu untuk memperlihatkan kami antara konflik dasyhat antara warna itu sendiri.
&nbsp

Pada tahun 3242, 1200 tahun dari warna pertama turun, warna-warna telah menjadi begitu bervariasi sesuai dengan selera dan kebiasaan masing-masing tempat.

MERAH tidak lagi cuma “MERAH” tapi juga ada merah marun, merah tua, merah muda, merah darah, merah menari, merah konservatif, merah tradisional, merah kota, merah desa, merah santri, merah liberal dan tentu, merah fundamentalis.

Masing-masing merasa sebagai MERAH, sebagian lagi merasa sebagai MERAH yang paling benar dan memaksakan merahnya pada yang lain.

Konflik di dalam warna ini untuk sementara waktu membuat konflik antar warna mereda.

Perbedaan paham dan iman yang berlangsung selama beratus-ratus tahun juga menyebabkan perbedaan pemahaman akan warna yang sama.

MERAH MARUN bermusuhan sengit dengan MERAH MUDA. Masing-masing mengkafirkan MERAH yang lain. Menjadi MERAH MARUN bahkan dilihat sebagai lebih buruk daripada menjadi HIJAU atau KUNING.

Ketika terjadi peperangan antara MERAH MUDA dan HIJAU maka MERAH MARUN akan diam menunggu dan melihat-lihat keadaan.

Tidak berlaku my enemy’s enemy is my friend. MERAH MARUN memilih untuk bermusuhan dengan semua pihak, thus berlaku my enemy’s enemy is stil my enemy.

Dan ini masik berlaku hingga sekarang.

Pada tahun 3542, kelompok-kelompok HIJAU terbagi menjadi dua bagian besar. HIJAU MUDA dan HIJAU TUA, dan dengan didukung oleh kekuatan militer dan raja-raja, konflik antara hijau muda dan hijau tua ini terjurumus pada konflik paling berdarah selama sejarah planet kami, yang melibatkan penyiksaan, pemaksaan warna dan lain-lain.

Di ujung masa konflik ini, beberapa kelompok orang berpindah mecari lokasi baru dan BERSUMPAH untuk mencari tempat dimana mereka bisa bisa bebas dari ketakukan dan kejaran para pemeluk WARNA. Suatu tempat dimana semua orang bisa memiliki kebebasan memilih WARNA yang mereka inginkan tanpa rasa takut.

Singkatnya mereka berangkat untuk mencari surga.

1,500 tahun telah berlalu sejak WARNA pertama hadir di dunia kami dan sudah sedemikian lama pula kami terlupa akan realita planet kami sebelumnya dimana hanya ada HITAM dan PUTIH, dimana kami semua sama.

Bukannya WARNA tidak membawa kebaikan dan manfaat bagi kami, hanya sekarang ini banyak orang bertanya-tanya manakah yang lebih besar, manfaatnya atau keburukannya dari warna. Apakah kita akan lebih baik jika WARNA tidak pernah ada? Jika dunia hanya HITAM dan PUTIH.

Sebagian orang menuduh bahwa WARNA adalah ciptaan manusia biasa dan bukan diturunkan dari langit dan karenanya tidak dimaksudkan untuk dipercaya apalagi, dijadikan alasan untuk memerangi orang lain yang berbeda WARNA-nya.

Tapi sejarah belum lagi berhenti.

Akankah mereka yang mencari surga di dunia menemukannya?

Dan bagaimana akhir cerita dunia kami?

Kamu bisa baca di email terakhir saya berikutnya…

WARNA part.1

November 6th, 2006 by michael

interesting article from http://enda.goblogmedia.com/tentang-warna.html

From: <editor@****.worldnet>
To: “whoevew” <whoever@g****.com>
Sent: Thornday, October 05, 3768 9:19 PM Planet Bumi
Subject: Untuk kamu yang mau baca

REQUEST FOR URGENT BUSINESS RELATIONSHIP

FIRST, I MUST SOLICIT YOUR STRICTEST CONFIDENCE IN THIS TRANSACTION. WE ARE TOP OFFICIAL OF THE FEDERAL GOVERNMENT CONTRACT REVIEW PANEL WHO ARE INTERESTED IN IMPORATION OF GOODS INTO OUR COUNTRY WITH FUNDS WHICH ARE PRESENTLY TRAPPED IN NIGERIA….. HE HE HE, KIDDING!

Bolehkan saya untuk memulai lagi. Ehm, ehm.

Di bawah ini adalah cerita tentang dunia tempat saya tinggal dengan segala isinya. Sebuah planet dalam jaringan alam semesta yang tidak jauh berbeda dengan tempat tinggal kamu yang kamu sebut planet bumi.

Kita tidak pernah berhubungan sebelum ini, kamu belum bisa melihat dan berkomunikasi dengan kami. Dan kami belum perlu untuk menghubungi kamu (selain email ini). Tapi selain jarak yang memisahkan kita ratusan juta tahun cahaya, rupanya kita tidak jauh berbeda.

Di bawah ini adalah cerita tentang kami.

Di tahun 3021, peradaban manusia (supaya mudah saya akan menggunakan istilah manusia juga) di dunia kami sudah berlangsung dan berkembang cukup lama. Populasi manusia sudah cukup banyak dan kami tinggal berkumpul di kota-kota besar yang melayang di atas tanah.

Teknologi, ekonomi dan kebudayaan kami cukup maju dan masalah lingkungan belum ada. Keluarga, bapak, ibu, anak hidup berdampingan dalam hubungan sosial yang dekat satu sama lain di dalam rumah-rumah pribadi.

Atmosphere planet cukup hangat untuk hidup tanpa alat pemanas dan cukup sejuk untuk ditinggali. Singkatnya kehidupan kami cukup menyenangkan dan tidak jauh berbeda dengan kehidupan di planet bumi dengan satu pengecualian, dunia kami hanya terdiri dari dua warna: HITAM dan PUTIH.

Untuk waktu yang lama tidak ada yang merasa hal ini aneh. Sepanjang yang kami tahu beginilah kondisi semua kehidupan di dalam dan diluar alam semesta, HITAM dan PUTIH, hingga suatu hari.

Di tahun 3368, di satu kota di belahan utara planet kami ditemukanlah sebuah warna KUNING. Tidak ada yang tahu dari mana warna KUNING ini berasal seolah-olah dia jatuh dari langit dikirimkan oleh sebuah kekuatan kebaikan untuk kami.

Penemuan ajaib dan supernatural! Orang berbondong-bondong untuk datang, karena tidak ada yang pernah melihat warna KUNING pada saat itu, dunia kami hanya hitam dan putih. KUNING terlihat seperti sesuatu yang luar biasa, hampir-hampir agung.

Tidak lama orang-orang yang sudah melihat warna kuning ini dengan mata kepala sendiri mulai merasakan pengaruhnya pada diri mereka. Mereka percaya bahwa KUNING dikirimkan untuk mereka dan ada maksud kenapa mereka yang menerima warna KUNING tersebut.

Kota itu pun menjadi terkenal sebagai warna KUNING, dan orang-orang yang tertarik pada warna KUNING berkumpul disitu untuk belajar dan mengenal apa sebenarnya arti dari warna tersebut. Sebagian menjadi sangat ahli tentang KUNING dan menjadi sumber rujukan bagi mereka yang ingin tahu. Sebagian lagi menyatakan diri percaya bahwa KUNING ditakdirkan datang pada mereka dan menjadi bagian dari hidup mereka.

Dua puluh tahun setelah itu, di tahun 3388, di tempat yang tidak jauh. Ditemukan sebuah warna lain lagi. Warna HIJAU.

Kembali orang berbondong-bondong untuk melihat warna baru ini. Ya kita sudah memiliki HITAM, PUTIH dan KUNING, tapi ini baru! Ini warna HIJAU!

Apa artinya warna yang baru ini? Apa pengirim HIJAU ini sama dengan pengirim KUNING? Kenapa dia ditemukan disini?

Kembali pertanyaan-pertanyaan memenuhi kepala mereka yang hadir disitu. Antusiasme dan keingintahuan untuk mempelajari warna ini pun hadir kembali. Orang berkumpul, belajar, menganalisa apa arti dari HIJAU.

Tidak lama orang-orang pun mulai membandingkan KUNING dengan HIJAU. Apa perbedaan antara mereka? Mana yang lebih bagus? Apa arti dari masing-masing warna?

Para ahli KUNING kurang senang dengan keadaan ini, waktu mereka dan keahlian mereka telah mapan di bidang KUNING. Dengan hadirnya HIJAU maka tingkat sosial mereka pun terancam, dan mereka mulai menunjukkan kelebihan-kelebihan KUNING di banding HIJAU.

KUNING lebih terang, KUNING adalah cahaya, KUNING adalah pencerahan, kata mereka pada para pengikutnya. HIJAU mungkin bagus, tapi tidak sebaik dan sebenar KUNING. KUNING adalah yang terbaik.

Sementara itu mereka yang melihat HIJAU dan lebih menyukai HIJAU tentu beranggapan lain.

HIJAU itu sejuk, HIJAU membawa kedamaian, HIJAU adalah kehidupan dan alam menurut mereka. HIJAU lebih baik dari KUNING.

Perdebatan yang sengit kadang muncul diantara mereka yang percaya pada KUNING dan mereka yang percaya pada HIJAU, tapi sementara itu peristiwa lain lagi datang.

Pada tahun 3428, 40 tahun setelah HIJAU turun dan 60 tahun setelah KUNING turun, di sebuah daerah lain, ditemukan warna MERAH.

Pada tahap ini, para pengikut KUNING dan pengikut HIJAU telah masing-masing memisahkan diri satu sama lain.

Mereka hidup di kota yang berbeda, dan kalaupun mereka hidup di kota yang sama mereka menegaskan identitas mereka dengan menggunakan simbol-simbol dengan warna masing-masing di tubuh mereka.

Pengikut KUNING akan mengecat janggut dan rambut mereka dengan warna KUNING, sedang pengikut HIJAU akan menggunakan gelang, kalung dan tutup kepala berawarna HIJAU.

Ketika MERAH datang, kembali proses yang sama terjadi. Orang datang untuk melihat MERAH, mebawanya sedikit dan menyebarkannya ke teman dan keluarga mereka.

Kembali keingintahuan dan antusiasme orang untuk mempelajari MERAH hadir. Dalam waktu yang tidak lama MERAH pun telah memiliki pengikut yang cukup banyak.

MERAH menurut mereka, berarti berani, MERAH adalah darah, sungai di tubuh kita, MERAH adalah kehormatan dan keksatriaan. Merah adalah satu-satunya cara hidup yang terhormat di planet ini.

Dalam kurun waktu seratus tahun, dunia kami yang asalnya hanya berwarna HITAM dan PUTIH telah mendapat tiga tambahan warna lagi tanpa kami tahu siapa pengirimnya dan apa sebabnya warna-warna itu hadir sekarang, mereka hadir begitu saja.

Masing-masing warna KUNING, HIJAU dan MERAH sekarang telah memiliki orang-orang yang percaya pada warna-warna tersebut, telah ada pengikutnya masing-masing.

Arti dan makna dari masing-masing warna telah mulai diformalkan agar orang tidak lupa dan lebih gampang untuk mempelajarinya. Mereka yang memformalkan ini menjadi ahli tentang warna-warna tersebut.

Membandingkan warna yang satu dengan yang lain tidak terelakkan. Diskusi dan perdebatan tentang mana warna yang paling bagus kerap terjadi dengan masing-masing pengikut percaya bahwa warnanya yang paling bagus.

Sebagian beranggapan ada maksud didalam cara penyampaian warna-warna tersebut yang tidak sekaligus. Kenapa KUNING dulu, lalu HIJAU, lalu MERAH?

Pengikut KUNING beranggapan bahwa KUNING adalah yang terbaik karena KUNING diturunkan pertama. Pengikut MERAH tentu berpendapat lain, MERAH yang terbaik karena dia diturunkan belakangan artinya MERAH diturunkan untuk memperbaiki warna-warna yang datang sebelumnya.

Sedang HIJAU beranggapan bahwa urutan mana yang turun tidak penting, tapi nilai-nilai dan makna dari warna-warna itu yang harus dijadikan patokan.

KUNING, HIJAU dan MERAH menjadi bahan diskusi dan perdebatan yang hangat di dunia kami saat itu. Masing-masing pengikut menggunakan identitas warnanya sendiri, pengikut MERAH sekarang menggunakan pakaian dengan lambang bulat berwarna merah di dadanya.

Bukan hanya orang, tapi benda milik pengikut warna pun menggunakan simbol dan warna ini. Rumah orang KUNING, akan terlihat berwarna KUNING, sedang orang MERAH mungkin mencat pintunya menjadi MERAH dan sebagainya.

Ketika sebagian orang mulai mencampurkan warna diatas dan mengatakan bahwa mereka percaya pada semua warna KUNING, HIJAU dan MERAH, kemarahan para ahli warna tidak terelakan lagi.

Tidak mungkin percaya pada semua warna menurut mereka. Seseorang hanya bisa percaya pada satu warna dan tidak lebih. Warna adalah pilihan, tidak ada yang memaksa, tapi kamu hanya bisa memilih satu warna karena mencampuradukkan warna akan berakibat campur aduknya nilai dan makna dan ini tidak bagus. Bagiku warna aku dan bagimu warna kamu.

Sejak tahun itu beberapa warna lagi datang di dunia kami. PUTIH UNGU dan BIRU ditemukan oleh orang di belahan dunia lain dan mulai menyebar juga dengan reaksi yang kurang lebih sama.

Sejak saat itu juga, satu orang hanya boleh memiliki satu warna dan warna ini biasanya diturunkan pada anak-anak kami. Orang tua yang HIJAU akan mengajarkan agar anaknya menjadi HIJAU pula. Dan begitupun yang lainnya.

Sejak saat itu dunia kami pun mulai berwarna tidak lagi HITAM dan PUTIH.

Apa yang terjadi dengan dunia kami kemudian?

Bagaimana hubungan antara KUNING, HIJAU dan MERAH serta warna-warna lain?

Apakah akan terjadi kekerasan antara masing-masing warna?

[Ikuti di email saya berikutnya.]

Is HELL exothermic or endothermic

May 1st, 2006 by michael

Is Hell exothermic or endothermic?

The following is an actual question given on a
University of
Washington chemistry mid-term. The answer by
one student was so profound that the professor
shared it with colleagues, via the
Internet, which is, of course, why we now have the
pleasure of
enjoying it as well.

Bonus Question: Is Hell exothermic (gives off heat)
or endothermic (absorbs heat)?

Most of the students wrote proofs of their beliefs
using Boyle’s law (gas cools when it expands and
heats when it is compressed) or some variant.

One student, however, wrote the following: First,
we need to know how the mass of Hell is changing
in time. So we need to know the rate at which
souls are moving into Hell and the rate at which
they are leaving. I think that we can safely assume
that once a soul gets to Hell, it will not leave.
Therefore, no souls are leaving. As for how many
souls are entering Hell, let’s look at the different
Religions that exist in the world today. Most of
these religions state that if you are not a member
of their religion, you will go to Hell. Since there is
more than one of these religions and since people
do not belong to more than one religion, we can
project that all souls go to Hell. With birth and
death rates as they are, we can expect the
number of souls in Hell to increase exponentially.

Now, we look at the rate of change of the volume in
Hell because Boyle’s Law states that in order for
the temperature and pressure in Hell to stay the
same, the volume of Hell has to expand
proportionately as souls are added. This gives two
possibilities: 1. If Hell is expanding at a slower rate
than the rate
at which souls enter Hell, then the temperature
and pressure in Hell will increase until all Hell
breaks loose. 2. If Hell is expanding at a rate faster
than the increase of souls in Hell, then the
temperature and pressure will drop until Hell
freezes over. So which is it?

If we accept the postulate given to me by Teresa
during my Freshman year that, "it will be a cold
day in Hell before I sleep with you," and take into
account the fact that I slept with her last night,
then number 2 must be true, and thus I am sure
that Hell is exothermic and has already frozen
over. The corollary of this theory is that since Hell
has frozen over, it follows that it is not accepting
any more souls and is therefore, extinct…leaving
only Heaven thereby proving the existence of a
divine being which explains why, last night, Teresa
kept shouting "Oh my God."

THIS STUDENT RECEIVED THE ONLY "A"

Just for Rhoma irama

April 25th, 2006 by michael

reporter jalanan
Sun, 26 Mar 2006 08:15:11 -0800

Puisi buat Bang Rhoma: "Suara Hati Anak Pantai"
   
  Sumber: Multiply - Rani Feldbusch
   
   
  Bang Rhoma yang saya hormati...
Jangan salahkan turis pakai bikini
Mereka mencari matahari
Di pantai kebanggaan negeri ini
Untuk itu tolong pahami
Tak mungkin berjemur pakai dasi
   
  Bang Rhoma yang saya hormati...
Mulailah introspeksi diri
Kelak kau temukan kebenaran sejati
Jangan banyak teori
Apalagi merasa suci
Engkau sendiri berpoligami
  Kami anak pantai
Terbiasa dengan pemandangan begini
Biar pun rambut warna-warni
Kami masih punya nurani
Tak pernah ada syahwat menari
   
  Bang Rhoma yang saya hormati...
Silahkan engkau datang kemari
Nikmati alam anugerah ilahi
Kami sambut dengan suka hati
Surfing pun kami ajari
Meluncur di atas ombak tinggi
Akan tetapi...
Jangan engkau pelototi
Kalau ada bodi seksi
Apalagi sampai birahi
 
Bang Rhoma yang saya hormati...
Mereka jangan dicaci maki
Apalagi dituduh pornografi
Semua itu keindahan tubuh yang alami
Dari negeri Sakura sampai Chili
Semua ada disini
Biarkan semua bangsa berbaur dalam damai
Mereka tidak cari sensasi
Tapi menghilangkan kepenatan sehari-hari
  Jangan fanatik budaya Arab Saudi
Ingat budaya Indonesia asli
Sensual tapi penuh arti
Jika kau paksa terapkan di Bali
Semua itu akan jadi basi
   
  Bang Rhoma yang saya hormati...
Jika engkau sudah datang kemari
Satu hal yang saya peringati
Meski ada turis cantik sekali
Jangan kau jadikan istri
   
  Salam damai dari kami