Archive for February, 2007

Indian Telephone Operator

Wednesday, February 28th, 2007

Mujibar was trying to get a job in India.

The Personnel Manager said, "Mujibar, you have passed all the tests except one. Unless you pass it you cannot qualify for this job."

Mujibar said, "I am ready."

The Manager said, "Make a sentence using the words Yellow, Pink and Green."

Mujibar thought for a few minutes and said, "Mister Manager, I am ready."

The Manager said, "Go ahead."

Mujibar said, "The telephone goes green, green, green, and I pink it up, and say, ‘Yellow, this is Mujibar.’"

Mujibar now works as a technician at a call center for computer problems. No doubt you have spoken to him.

It’s a Smurf World, After All

Thursday, February 15th, 2007

From http://www.hatchmagazine.com/2007/01/its-smurf-world-after-all.html

Eeryone’s favorite little blue creatures enter the real world

Seems there was a smurf for every smurfin’ emotion one could smurf of. Whether they were created smurfy or smurfy, smurfy or smurfy, those little blue rascals from the ’80s serve as a perfect allegory for contemporary twentysomethings. Here’s how they turned out:

Smurf_brainyBrainy. He graduated magna cum laude from some smurfy Ivy League school and won’t let you forget it. Mr. Smurf-It-All was smart enough to not follow his dreams, but rather pursue a joint degree in computer science and finance so he could take the thousands he’s raking in as an IT whiz and invest it wisely. And, just to protect his smurfy little assets, he got his juris doctorate. What a smurfin’ smurf.

Grouchy. This miserable son of a smurf got a crap entry-level job in publishing right out of college and, three years later, he’s got the same job. And his incessant pouting ensures that everyone knows his plight.

Lazy. Unemployed and smurfin’ it, he’s perfectly content living off unemployment checks, smurfing around the house in his pajamas and eating bowls of Smurfs cereal.

Vanity. This metrosexual smurf spends most of his time looking in the mirror and spends most of his money on tanning salons, clothes, electrolosis and Propecia. And he has Smurf Eye for the Smurf Guy to thank for it.

Cook. Sir Carbs-a-Lot was the last to catch onto the Atkins craze. And, unfortunately, his failed bagel business — and some chubby smurfhandles — are all he has to show for it. Thinner and sans gall bladder, he hopes to smurf his smurf around with a butcher shop.

Greedy. Made millions selling a dot-com smurf-up a few years back, but instead of diversifying his portfolio, he smurfed all his money into what surely seemed to be a safe company — Enron.

Hefty. All those weights really helped this smurf get smurfed, and he smurfed his way into Major Smurf Baseball, where he continued to get smurfy. He even hit the smurf to increase his smurf. But when his smurf cap couldn’t fit his smurfin’ head any more and they couldn’t tell his tail from his smurf, he got thrown out of baseball. Thin and unable to hit homers, he frequents Greedy’s butcher shop.

Clumsy. He’s collected big-time from worker’s smurfensation. Three times.

Smurfette. This smurfy dame sure had her share of smurfs. And after she adopted the Paris Smurf look, the smurfs just kept flocking. But alas, she is raising a mushroom-hut full of smurfs all by her lonesome, and she’s got a case of smurfes she just can’t kick.

Handy. The crafty carpenter became a landlord, building smurf-budget housing and renting it out for high-budget rents. A sad slumsmurf who’ll get what’s smurfing to him.

Poet. Smurfed his own life while listening to Marilyn Smurfson.

Farmer. His land was smurfed up by the man so the state could run a highway through his farm, and now he’s smurf out of luck collecting smurferment checks.

Jokey. Though he used to get all the laughs, Jokey’s obsession with exploding gift boxes got him arrested and sent to Smurftanamo.

And as for Gargamel, well, his middle initial is now W.

Pengakuan Seorang Pemalas

Tuesday, February 13th, 2007

Taken from http://enda.goblogmedia.com/pengakuan-seorang-pemalas.html

Hai.

Nama saya tidak penting. Saya laki-laki, dilahirkan 30 tahun yang lalu di Jakarta, dengan bintang Leo. In relationship, punya pekerjaan bagus. Tinggal sendiri di kota besar ini.

Kamu tidak kenal saya, saya juga tidak kenal kamu. Saya orang baru disini.

Di tulisan ini saya mau mengakui sesuatu tentang diri saya yang tidak ada orang lain yang tahu.

Yaitu, saya, seorang pemalas.

Saya memulai hari dengan malas. Setiap bangun yang pertama kali saya pikirkan adalah, apa saya harus masuk kerja? Berapa hari lagi jatah sick leave saya? Dan kenapa sih orang harus kerja?

Dan kalo pun akhirnya saya bangun, mandi dan pergi ke kantor itupun saya lakukan dengan terpaksa dan dengan satu tujuan: sebisa mungkin tidak mengerjakan apa-apa hingga jam pulang kantor tiba!

Oh jangan khawatir, banyak hal yang bisa dilakukan dikantor sambil terlihat kerja. Ada ruang pantry tempat berlama-lama membuat kopi sambil ngobrol, ada meeting berjam-jam dimana kamu cuma perlu duduk manis, ada lunch hour, (!) really loooong lunch hour. Dan ada komputer dan internet (ah penemuan yang brilian luar biasa) dimana kamu bisa duduk berjam-jam terlihat bekerja padahal sibuk mem-forward email lucu (yang kadang jorok) ke teman-teman kamu.

Kalo satu hari terbuang percuma maka saya akan menepuk dada dan memberi selamat pada diri saya sendiri. Selamat bung, kamu berhasil membuang waktu sehari penuh tanpa kerja!

Ya saya seorang pemalas, keahlian saya adalah membuang-buang waktu.

Oya jangan salah, tidak ada yang tahu tentang hal ini, tidak teman kerja saya, tidak boss saya. Sepengetahuan saya, semua orang menyangka saya seorang yang normal. Tapi mereka salah.

Kuncinya adalah, cukup mengerjakan pekerjaan yang benar-benar harus disaat yang benar-benar penting. Di luar itu, jangan kerja! Cukup duduk manis di depan komputer, berpakaian rapih dan terlihat sibuk.

Saya bukan orang yang bodoh, justru karena saya pintar maka saya malas dan menerima tawaran pekerjaan ini (saya terlalu malas buat ngirim-ngirim lamaran).

Saya malas kuliah dulu, tapi didaftarkan oleh orang tua saya. Saya lulus karena berpegang pada prinsip kemalasan saya tadi, mengerjakan hanya hal yang harus dikerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan saya tidak sendirian.

Sudah dengar cerita tentang lomba malas sedunia? Intinya kira-kira begini.

Tiga pemenang lomba malas sedunia diwawancara dalam sebuah talk show.

Juara 3 ternyata ditempati oleh orang yang tidak makan dan minum selama 12 hari karena untuk makan saja dia MALAS. Juara 2 ditempati oleh orang yang tidak buang air besar selama sebulan, dan menurut pengakuannya, itu dia lakukan karena dia MALAS.

Dan ketika kamera beralih ke juara 1, ternyata sang pemenang sedang menangis tersedu-sedu.

“Kenapa?”, tanya si pembawa acara, “Kok malah sedih? Harusnya Anda senang dong menjadi juara 1.”

“Oh bukan itu, saya senang kok juara. Ini ANU saya kejepit di resleting”, jawabnya sambil terus tersedu-sedu.

“Loh!? Terus kenapa tidak dibuka?”, tanya pembawa acara keheranan.

“Abis saya malaass”.

Saya seorang pemalas, dan website favorite saya adalah malesbanget.com

Bukannya saya tidak punya inspirasi atau cita-cita. Saya merasa banyak orang yang salah paham tentang pemalas dan saya ingin membenarkan pandangan itu.

Sekitar tahun 2001-an saya sudah mau mulai membeberkan true story ttg para pemalas dalam bentuk artikel, buku dan seminar-seminar, sayang terus sayanya malas.

Dan karena itulah, sejak Januari 2004 saya memulai menulis pengakuan ini untuk meluruskan permasalah kemalasan itu. To keep the record straight. Akhirnya setelah 11 bulan, karena nulisnya males-malesan, pengakuan ini syukur rampung juga.

See, untuk hal-hal penting, selesai juga kok akhirnya. Bukannya saya tidak punya prioritas buktinya saya punya pekerjaan tetap, punya pacar, punya kehidupan.

Saya seorang pemalas, dan tokoh favorite saya adalah Kabayan.

Dunia penuh oleh para pemalas, bukankah pepatah mengatakan laziness is the mother of all invention?

Orang malas jalan, maka diciptakanlah mobil, orang malas membuat tabel dan menghitung dengan sipoa maka terciptalah Excel, orang malas memasak maka terciptalah instant food dan microwave.

Tanpa para pemalas, dunia ini akan tetap di jaman batu.

Jadi tidak ada yang salah dengan berlaku malas. Mungkin saya akan menciptakan sesuatu, mungkin sebuah robot yang persis saya yang akan mengerjakan segala sesuatu yang harus saya kerjakan.

Ya saya seorang pemalas, dan utopia saya adalah dunia penuh robot dimana saya bisa hidup di dalam mesin mimpi.

“Apakah kamu bahagia?”, kamu mungkin bertanya, “bukankah kebahagiaan, salah satunya datang dari rasa kepuasaan disaat kamu mengerjakan sesuatu, disaat kamu tahu ada hasil dari yang kamu kerjakan, ada reward, perasaan puas (wekdor)?”

Oh terima kasih, tapi saya tidak punya waktu (!) untuk memikirkan kebahagiaan saya cukup sibuk mempertahankan kemalasan saya.

Saya cukup senang (apakah bahagia itu senang? bukan, senang itu hitut dina se’eng) dengan hidup saya sekarang.

Di akhir sebuah hari, jika saya berhasil tidak mengerjakan apa-apa di hari itu maka saya akan merayakan hari tersebut dengan makan malam yang enak dan menghibur diri dengan cara apapun.

Kadang sendiri, kadang dengan teman yang tidak merepotkan atau dengan pacar yang tidak menyusahkan, tapi seringkali sendiri. Orang lain adalah pekerjaan dan saya malas mengurusnya.

Habis itu saya akan pulang kerumah, memarkirkan mobil ke garasi rumah saya yang tidak pernah ditutup (males nutupnya), masuk ke tempat tidur, melihat langit-langit, mengingat lagi bahwa hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa. Satu hari lagi terbuang percuma dan saya pun menangis tersedu-sedu.

Tidak apa, tidak apa, saya tidak apa-apa, tinggalkan saja saya, saya butuh sendiri, saya sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.

Anu saya sudah kejepit resleting sejak 7 tahun yang lalu. Tiap pagi robot saya menjepitkan anu saya di resleting, dan tiap malam dia melepaskannya lagi.

Ya saya seorang pemalas.

Dan inilah pengakuan saya.

By Enda Nasution on December 11, 2004 2:16 PM | Permalink

Ngeyel

Thursday, February 8th, 2007

Funny Story taken from Koki

Dari begitu banyaknya cerita para sesepuh yang suka ngeyel ini, saya jadi teringat salah satu cerita yang pernah saya denger, hampir 20th yg lalu waktu awal2nya masuk SMA, ceritanya dalam bahasa jawa, lupa2 inget tapi kurang lebihnya begini. Ada seorang kakek yang hidup berdua dengan kucing kesayangannya, tiba2 suatu hari si kucing pulang dengan tubuh dekil bin kumel, lalu pergilah dia ke warung di kampungnya.

Kakek: “Dul, kowe duwe sabun sih ampuh nggo ngilangake kotoran?”
Si Dul: “Ono, Mbah, iki lho sabun Lux, ampuh tur ambune wangi”
K: “Lho, kok ora ono gambare kucing?”
D: “Nek arep ngresiki kucing yo di lap wae”
K: “Ora! Pokok’e kudu di dusi, wong kotorane mbandel ki”
D: “Tapi yo melas tho, Mbah. Ngko ndak kanyesen kucingmu”
K: “Yo ora tho! Nek langsung di pé!”          
D: “Yo wis nganggo Rinso wae, regane murah tur jaminane rinso membersihkan paling bersih, iki lho tulisane”
K: “Sabun Lux wae, ben wulune tambah alus”
D: “Ning resikone, wulu kucingmu ambrol kabeh nek di gosok karo sabun Lux, wis tho, rinso wae, carane gampang, sing penting ngati-ati koyo ngumbah klambi bathik!”
Akhire si Kakek pulang dengan rinso ditangan, beberapa hari kemudian dia nonggol lagi, untuk membeli beberapa keperluan dapur.
D: “Piye kucingmu, wis resik?”
K: “Aku wis ra duwe kucing, yo goro2 rinsomu iku!”
Dul bengong, “Mbok empani rinso tho?!”
K: “Ora, mati tak peres.”
Dul tambah bengong, ketika berusaha angkat bicara, si Kakek langsung memotong.
K: “Ora usah mangsuli wong tuwo! Kowe ugo sing ngandani -sing penting ngati-ati koyo ngumbah klambi bathik! Hasile, kucingku mati ! ” jawab si Kakek tetep keukeuh bin ngeyel hehehehe…  Dasar kakek2, kadang2 mereka selalu ‘I believe I can fly’ (R Kelly) sing artine “Pancen Ngeyel Tenan!” Salam.